![]() |
| Sumber gambar: gambar-kata.com |
Tidak
ada sesuatu yang telah Allah subhanah
wata’ala ciptakan tanpa memiliki manfaat dan kelebihan dalam dirinya.
Ciptaan Allah subhanah wata’ala tidak
lepas dari dua fitrah, yaitu fitrah berpasangan. Siang dan malam, langit dan
bumi, air dan tanah, panas dan dingin. Begitupula pada manusia, dibekali
kelebihan dan kekurangan.
Hal
berpasangan yang selalu melekat pada diri manusia ini (kelebihan dan
kekurangan) tidak sama antara satu orang dengan orang yang lainnya. Hal ini
berbeda pada setiap manusia. Dan bekal inilah yang membuat manusia unggul dari
sesamanya, karena tidak ada manusia yang terbelakang atau bodoh. Bergantung seberapa
cepatnya kita mengetahui kelebihan kita dan memanfaatkan kelebihan tersebut.
Adalah
pemuda K (19 tahun). Seorang pemuda Desa yang merantau ke kota untuk kuliah. Pemuda
yang sehari-harinya bersentuhan dengan tengki semprot, gabah-gabah yang siap
dipikul dan cangkul. Dan seperti anak-anak kampung yang ke kota pada umumnya, mereka
tidak familiar dengan teknologi.
Diawal-awal
masa adabtasinya di kota, K sering diejek oleh teman-teman se kampus. Tidak jarang
dia murung karena hal itu, terkadang tiba-tiba ngambek karena candaan teman-temannya yang menyinggung perasaannya.
Beberapa kali K berpikiran untuk pindah kampus, namun selalu dicegah oleh
teman-teman yang mengerti keadaannya.
Masa
adabtasi selesai, setengah tahun pertama bisa dilalui oleh K. Setengah tahun
berikutnya, K membuktikan bahwa dia ‘berbeda’ dari teman-temannya. K berani
keluar dari zona nyaman mahasiswa dan membaur dengan lingkungan luar yang padat
kegiatan. Inilah yang kami maksud dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki
oleh manusia. Terkadang manusia kurang dari sisi kepandaian, namun ia unggul di
sisi hubungan dengan orang lain.
Terkadang
manusia minder dengan kekurangan yang selalu dipikirkannya tanpa menyadari
bahwa dia mempunyai kelebihan yang luar biasa besar kalau dimanfaatkan. Yang namanya
kehidupan, indah jika dibumbui oleh orang-orang antagonis, orang-orang yang
selalu mengejek orang lain. Indah karena hal tersebut akan memacu orang-orang
yang diejek untuk membuktikan kemampuannya. Ejekan itu dijadikan cambuk
penyemangat untuk terus memperbaiki diri.
Dengan
begitu, tidak perlu kita minder dari orang lain. Setiap kita memiliki bekal
kemampuan yang dapat dikembangkan agar bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi
orang lain. Memang, jalan untuk memanfaatkan kelebihan yang kita miliki sangat
panjang dan melelahkan. Namun jika kita yakin bahwa Allah subhanah wata’ala lah sebaik-baik pengatur dan menyerahkan semua
hasil usaha kita kepada Allah subhanah
wata’ala, niscaya kita akan bahagia melalui perjuangan itu. Selesai.
Semoga Bermanfaat,
Salam hangat,
Sahabatmu A.Rafiq

No comments:
Post a Comment