Dibalik kesengan
yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada kita, pasti ada sisipan
kesedihan didalamnya.
Setelah
menamatkan pendidikan di tingkat dasar, qodarullah atas kehendak
Allah keluarga kami mengalami problem. Walhasil, dikirimlah saya ke
pondok pesantren dan orang tua pindah ke Kota Daya, Sulawesi Selatan.
Cobaan
berat itu adalah berpisahnya saya dengan kedua orang tua. Dan
perpisahan inilah yang mengajarkan saya untuk memiliki jiwa perantau,
jiwanya orang-orang suku bugis-makasar.
Bayangin
ya. Satu tahun pertama di pondok, tidak ada yang datang menjengukku.
Sebelum kedua orang tua berangkat ke Daya, aku diberi uang saku Rp
150.000. uang itu habis, kira-kira tiga bulan. Maklum, saya baru
diberi uang saku segede itu. Tahun pertama dipondok berjalan agak
normal. Aku bisa cepat menyesuaikan diri di lingkungan yang baru itu.
Tahun pertama di pondok, aku dapat banyak kakak-kakak baru yang
baik-baik. Aku sering disuruh-suruh mereka untuk beli ini itu. Dan
baiknya, aku diberi uang 'jalan' dari bantuanku itu. walhamdulillah
aku jarang 'kelaparan' karena aku selalu dapat upah uang 'jalan'.
Tahun
pertama yang indah.
Tahun
demi tahun kulalui di tempat merantauku. Di kampung orang. Banyak
pengalaman pastinya. Pahit manis, asin garam -eh sama aja ya, garam
itu asin-. Dan hal inilah yang membuatku bisa menyesuaikan diri di
manapun aku pergi. Seperti saat ini, aku masih betah meninggalkan
kampung yang lamanya sudah 1,5 tahun namun belum terbesit rasa ingin
pulang kampung.
Bermimpi
besarlah, dan usahakanlah mimpimu agar tercapai dengan usaha.
No comments:
Post a Comment