2 August 2014

REGIO #4


Dibalik kesengan yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada kita, pasti ada sisipan kesedihan didalamnya.
Setelah menamatkan pendidikan di tingkat dasar, qodarullah atas kehendak Allah keluarga kami mengalami problem. Walhasil, dikirimlah saya ke pondok pesantren dan orang tua pindah ke Kota Daya, Sulawesi Selatan.
Cobaan berat itu adalah berpisahnya saya dengan kedua orang tua. Dan perpisahan inilah yang mengajarkan saya untuk memiliki jiwa perantau, jiwanya orang-orang suku bugis-makasar.
Bayangin ya. Satu tahun pertama di pondok, tidak ada yang datang menjengukku. Sebelum kedua orang tua berangkat ke Daya, aku diberi uang saku Rp 150.000. uang itu habis, kira-kira tiga bulan. Maklum, saya baru diberi uang saku segede itu. Tahun pertama dipondok berjalan agak normal. Aku bisa cepat menyesuaikan diri di lingkungan yang baru itu. Tahun pertama di pondok, aku dapat banyak kakak-kakak baru yang baik-baik. Aku sering disuruh-suruh mereka untuk beli ini itu. Dan baiknya, aku diberi uang 'jalan' dari bantuanku itu. walhamdulillah aku jarang 'kelaparan' karena aku selalu dapat upah uang 'jalan'.
Tahun pertama yang indah.
Tahun demi tahun kulalui di tempat merantauku. Di kampung orang. Banyak pengalaman pastinya. Pahit manis, asin garam -eh sama aja ya, garam itu asin-. Dan hal inilah yang membuatku bisa menyesuaikan diri di manapun aku pergi. Seperti saat ini, aku masih betah meninggalkan kampung yang lamanya sudah 1,5 tahun namun belum terbesit rasa ingin pulang kampung.
Bermimpi besarlah, dan usahakanlah mimpimu agar tercapai dengan usaha.

No comments: