2 August 2014

REGIO #1

Kupandangi layar notebook ku, kulihat tanganku mengikuti perintah yang diberikan oleh sang penggerak, otak. Pandanganku jauh menerawang masa lalu.
nak, setelah shalat dhuhur kamu keliling jual jalangkote ya” perintah ibuku. Orang itu adalah seorang wanita yang memiliki prinsip hidup kokoh, tidak akan pernah menyerah dengan keadaan apapun!.
Setelah shalat dhuhur, ku termenung melihat tumpukan tepung berisi singkong diiris dadu dan dicampur dengan mie kering serta bumbu yang telah digoreng itu. Ada rasa enggan dalam dadaku untuk meraih barang itu, sehingga orang tua itu menegurku lagi.
nak, kamu belum berangkat. Kenapa?”
Entah mengapa air mataku meleleh.
aku malu bu” ucapku lirih.
nak, mengapa kamu malu. Apa yang kita lakukan ini bukan perbuatan jahat kan? Seandainya kamu diperintah untuk mencuri, kamu pantas untuk malu”
iya bu” ucapku sambil mengambil setumpuk tepung goreng berisi bumbu yang telah disiapkan dalam wadah khusus yang sering kami sebut jalangkote itu.
Tanganku berhenti menekan keyboard knop komputer mini milikku. Ku berbalik melihat orang yang baring disampingku, dia tidur tapi berbicara.
Ku kembelikan konsentrasiku untuk mengingat sejarah hidupku 11 tahun silam.
Sejak hari itu, setiap mama –begitu aku memanggil orang yang melahirkanku itu- menyuruhku melakukan apapun, aku tidak pernah lagi merasa malu.
Sejak hari itu pula, jiwa berwirausahaku hidup. Entah mengapa, dimanapun aku pergi jiwa itu selalu menyeruak.
fit, –ini nama sepupu perempuanku yang juga seorang pengayuh sepeda berkeliling desa menemaniku berjualan- berangkat ke lorong baru duluan saja, nanti aku menyusul” kataku sambil mengikat box jalangkote di boncengan sepeda. Hari ini fitri –itu nama lengkapnya- sedang tidak membawa barang dari mama, dia sendang membawa barang dagangan milik saingan bisnis kami yang masih saudara kandung mama.
Hari itu, aku mengayuh sepeda menuju lorong baru. Kususuri jalan yang berdebu ditengah terik matahari. Belum seorangpun yang memanggilku untuk singgah dikolong rumahnya, tempat orang-orang kampung membeli barang daganganku. Tanpa menyerah, kukayuh sepeda itu. Lagi dan lagi. Kulalui kebun kakao yang dimiliki orang-orang sampai akhirnya aku melihat sekumpulan orang yang membeli barang bawaan fitri.
Ku berhenti diperbatasan kebun dengan perumahan warga sambil menurunkan jalangkote milikku. Ku makan jatah yang telah disiapkan mama dari rumah. Sambil meneteskan air mata, ku kunyah jalangkote itu. Hatiku kalut, daganganku belum juga laku, padahal sore sudah tiba. Aku menangis karena merasa kasihan dengan ibu yang bangun jam 2 malam menyiapkan semua jualan, namun tak jua ada yang laku.
Tanpa kusadari, sepupuku melihat tingkahku yang aneh itu. Melihat dia mendekat kearahku, cepat-cepat ku usap air mata dipipi.
kamu kenapa, nangis ya?” sapa nya.
tidak, ini makan dulu. Ayo berangkat” jawabku.
Ku istirahatkan jari dari menekan keyboard knop, sambil meluruskan tulang belakang yang sedari tadi duduk. Ku tersenyum simpul mengingat masa kecil itu.
Pikiranku berusaha mengingat masa kecil itu lagi, kali ini tergambar jelas dikepalaku jalangkote yang basah terendam air sungai karena keranjangnya terlepas dari boncengan belakang sepedaku saat menuruni turunan jembatan lorong camming. Jalangkote itu jatuh tepat ditengah-tengah jembatan yang kebetulan sedang berlubang. Dan, bruak. Keranjang jalankote terjun bebas ke sungai.
Aku pulang dengan perasaan takut akan dimarah Bapak. Namun sesampai di rumah, Bapak hanya mengatakan “lain kali hati-hati nak”.
Inilah sifat Bapak. Beliau adalah seorang yang sangat pendiam. Sejak dulu, saya dan Bapak jarang bercanda. Namun sekarang, setelah aku kuliah beliau hamper setiap hari menelpon. Akhirnya ku sadari juga, jika kita ingin akrab dengan keduaorang tua kita maka kitalah yang harus memulainya.

No comments: