2 August 2014

REGIO #5

Belum hilang dari ingatanku pengalaman praktik klinik di RSUD DR. Soetijono Blora, hari ini praktik klinik semester IV baru saja terlewati. Tentu saja selalu ada hal baru dari kegiatan rutin kampus ini. Jika beberapa bulan yang lalu praktikku di RSUD Blora bertemu orang dengan HIV-AIDS (ODHA), praktik semester IV di RSJ Grhasia DIY ini aku malah bertemu dengan #lali jiwo atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sebenarnya cukup bijak memanggil mereka dengan sebutan 'orang dengan gangguan jiwa', jika dibandingkan dengan orang-orang diluar sana yang menyebut pasien #lali jiwo ini dengan kata (maaf) orang gila. Wah, kata itu terlalu menusuk dan mengkultuskan mereka bahwa seolah-olah mereka adalah orang jahat, pengganggu, dan sangat perlu untuk dijauhi.
Kawan-kawan, sebenarnya pikiran kita tentang ODGJ selama ini masih salah. Maaf ya, saya tidak mengajari anda loh. Ini hanya berbagi pengalaman saya saja. Banyak diantara mereka yang tidak seperti apa yang kita bayangkan. Diantara mereka banyak yang butuh perhatian dan butuh teman ngobrol. Tetapi banyak juga yang masih tidak dapat mengotrol dirinya, orang-orang yang seperti ini yang belum bisa kita dekati.
Sebagai kesimpulan dari praktik klinik di RSJ Grhasia ini, seperti yang dikatakan oleh Ibu............... siapa ya, lupa aku nama beliau, bahwa kita perlu banyak bersyukur, kita diberikan kemampuan untuk mengontrol diri kita. Mengontrol diri ketika sedang ada masalah dengan kembali kepada sang Pencipta. Kemudian, inti dari keadaan ODGJ ialah seperti yang selalu dikatakan oleh dosen praktikum mata kuliah keperawatan dewasa III, Bapak Errick Endra Cita, bahwa intinya adalah penerimaan kita terhadap keadaan yang terjadi dalam kehidupan. Tanpa penerimaan, kita akan berbuat semau kita sebagai pelampiasan. Hal inilah yang banyak dialami oleh ODGJ, tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.
Nah, pengalaman saya di praktik klinik kali ini seperti itu, tentu saja setiap orang punya pengalaman yang berbeda. Semoga kita bisa mengontrol diri kita dengan selalu ber-positif thinking atas segala keadaan. Ingat, Allah itu bergantung pada prasangka hambanya. Jika kita membiasakan untuk belajar ber-positif thinking kepada Allah, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari masalah kita. Yakin itu.

REGIO #4


Dibalik kesengan yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada kita, pasti ada sisipan kesedihan didalamnya.
Setelah menamatkan pendidikan di tingkat dasar, qodarullah atas kehendak Allah keluarga kami mengalami problem. Walhasil, dikirimlah saya ke pondok pesantren dan orang tua pindah ke Kota Daya, Sulawesi Selatan.
Cobaan berat itu adalah berpisahnya saya dengan kedua orang tua. Dan perpisahan inilah yang mengajarkan saya untuk memiliki jiwa perantau, jiwanya orang-orang suku bugis-makasar.
Bayangin ya. Satu tahun pertama di pondok, tidak ada yang datang menjengukku. Sebelum kedua orang tua berangkat ke Daya, aku diberi uang saku Rp 150.000. uang itu habis, kira-kira tiga bulan. Maklum, saya baru diberi uang saku segede itu. Tahun pertama dipondok berjalan agak normal. Aku bisa cepat menyesuaikan diri di lingkungan yang baru itu. Tahun pertama di pondok, aku dapat banyak kakak-kakak baru yang baik-baik. Aku sering disuruh-suruh mereka untuk beli ini itu. Dan baiknya, aku diberi uang 'jalan' dari bantuanku itu. walhamdulillah aku jarang 'kelaparan' karena aku selalu dapat upah uang 'jalan'.
Tahun pertama yang indah.
Tahun demi tahun kulalui di tempat merantauku. Di kampung orang. Banyak pengalaman pastinya. Pahit manis, asin garam -eh sama aja ya, garam itu asin-. Dan hal inilah yang membuatku bisa menyesuaikan diri di manapun aku pergi. Seperti saat ini, aku masih betah meninggalkan kampung yang lamanya sudah 1,5 tahun namun belum terbesit rasa ingin pulang kampung.
Bermimpi besarlah, dan usahakanlah mimpimu agar tercapai dengan usaha.

REGIO #3


Mentari pagi ini mengalahkan sekumpulan kabut yang sejak malam membumbung mengitari atmosfer karanggayam, piyungan. Alhamdulillah, hari ini masih bisa merasakan segarnya udara Yogyakarta. Masih segar dalam ingatanku minggu-minggu terakhir PKL di Kota Blora itu. Perkenalanku dengannya, bagaimana kami bertemu kembali dan hari-hari terakhir bersamanya. Sekedar saran buat teman-teman pembaca, jika ingin punya banyak teman maka berlemah-lembutlah kepada mereka.
Hay, sapaku malam ini. Aku punya rencana untuk melanjutkan cerita kecilku, setujut?
Siang itu, ku berkutat di dalam kamar. Sibuk memikirkan sepeda baru yang dijanjikan ibu. Ibu janji akan membelikan sepeda baru dari uang celengan hasil jualanku itu.
Sore itu, aku, ibu dan afif-adikku- tiba di bengkel Anas. Masih ku ingat, waktu itu uang yang akan dipakai untuk bayar sepedanya adalah uang recehan yang totalnya Rp 150.000. Kagetlah sang empunya bengkel bukan kepalangnya. Namun itu tidak mencegahku untuk memboyong sepeda mustang mini warna biru putih itu. Senang bukan main perasaanku waktu itu. Bagaimana tidak, aku bisa beli sepeda dari hasil keringatku sendiri. Hehehe, bangga dong.
Nah teman-teman, jangan malu untuk lakukan sesuatu yang kecil. Karena dari yang kecil itulah kita bisa dapatkan sesuatu yang besar nantinya. Ok. Setuju gak?

REGIO #2


Entah mengapa jam segini (10:35) PM aku masih bergairah menulis. Menikmati malam minggu pikirku. Sepulang dari alun-alun kota Blora, aku berusaha menulis beberapa kalimat seperti ini :
Siapa yang tahu alur hidup itu. Awal Praktik Kerja Lapangan (PKL), sekitar 4 minggu yang lalu tanggal 20 Januari 2014, ku melakukan pengkajian Asuhan Keperawatan (ASKEP) dengan pasien Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA. Awalnya ku memilih mas T.
aku boleh ngomong sebentar mas,?” Tanya ku membuka percakapan siang itu.
iya, silahkan” jawabnya lemah.
begini mas, saya dapat tugas dari kampus untuk membuat ASKEP. Saya memilih mas utnuk dikaji. Caranya seperti ini, saya akan bertanya ke masnya tentang penyakit mas. Jawaban yang mas berikan akan saya rahasiakan” ucapku mempraktikkan tehnik Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP)
Harap-harap cemas aku menunggu jawaban dari dia, berharap di mengerti perasaanku. Dan akhirnya jawaban itu terucap dari mulut mungilnya.
mmm, gimana ya mas. Saya masih takut untuk cerita” jawabnya berusaha tersenyum.
oh iya, tidak apa-apa kalau masnya belum siap. Terimakasih ya” jawabku kecewa
Beberapa hari setelah ku pindah tugas di bangsal lain, mas T sudah boleh menikmati atmosfer rumah. Dengan gembira dia pulang ke rumah didampingi ibu dan kakaknya yang setia menemani di bangsal JPS itu. Dua minggu menghirup udara segar rumah dan menikmati hangatnya berkumpul dengan keluarga besar, tiba-tiba kesehatannya menurun. Pagi itu, sang ibu tercinta menyiapkan susu hangat buat mas T. Alangkah terkejutnya sang ibu, ketika mas T tidak lagi ingin meminum susu hangat yang disiapkan. Bukan hanya itu, dia juga tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sang ibu tercinta panik, dan segera membawa sang anak ke Intensive Care Unit (ICU). Kebetulan saya sedang jaga di ruang ICU, dan bertemulah saya kembali dengan mas T dan ibunya.
Berusaha memahami perasaan sang ibu, dalam kesendiriannya ku berusaha menemaninya. Mengajaknya bercerita tentang kehidupan sang anak tercinta yang terbaring sangat kritis disampingnya.
Lima hari dirawat diruang ICU, kondisi mas T semakin memburuk. Malam itu, Sabtu 07 Februari 2014, aku dan teman-teman lain berusaha menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap terisi oksigen. Dengan berusaha keras, kami melakukan bagging (memasukkan oksigen melalui tabung yang ditekan). 100 kali lebih aku menekan tabung itu dengan hitungan ‘satu seribu’, dan tidak terhitung berapa kali teman-teman yang lain melakan hal yang sama untuk menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap tersuplai oksigen. Namun Sang pemberi nyawa berkehendak lain, waktu mas T sudah habis. Akhirnya, aku melihat orang yang telah berjuang untuk hidup itu pergi, nyawanya meninggalkan badannya yang terbujur kaku di bed. Malam Sabtu, 07 Februari 2014 dia pergi.
Malam ini, ku membayangkan lagi wajah itu. Wajah yang telah berjuangan melawan sakit yang mungkin orang tuanya tidak mengetahui penyakitnya. Wajah yang akan terus membuatku semangat menjalani kerasnya hidup, karena dia telah mendahuluiku mencicipi dunia ini. Terimakasih mas T, ku berdo’a semoga engkau di alam sana diberikan keringanan oleh Sang Maha Kuasa. Amin.
Tak terasa sudah pukul 11:15 PM. Jari jemariku telah lemas menekan keyboard knop laptop mini milikku. Mata ini pun sudah tak sanggup menahan beban berat tarikan kelopaknya.
Akhirnya, ku tekan formula Ctrl+S untuk menjawab godaan mataku.

REGIO #1

Kupandangi layar notebook ku, kulihat tanganku mengikuti perintah yang diberikan oleh sang penggerak, otak. Pandanganku jauh menerawang masa lalu.
nak, setelah shalat dhuhur kamu keliling jual jalangkote ya” perintah ibuku. Orang itu adalah seorang wanita yang memiliki prinsip hidup kokoh, tidak akan pernah menyerah dengan keadaan apapun!.
Setelah shalat dhuhur, ku termenung melihat tumpukan tepung berisi singkong diiris dadu dan dicampur dengan mie kering serta bumbu yang telah digoreng itu. Ada rasa enggan dalam dadaku untuk meraih barang itu, sehingga orang tua itu menegurku lagi.
nak, kamu belum berangkat. Kenapa?”
Entah mengapa air mataku meleleh.
aku malu bu” ucapku lirih.
nak, mengapa kamu malu. Apa yang kita lakukan ini bukan perbuatan jahat kan? Seandainya kamu diperintah untuk mencuri, kamu pantas untuk malu”
iya bu” ucapku sambil mengambil setumpuk tepung goreng berisi bumbu yang telah disiapkan dalam wadah khusus yang sering kami sebut jalangkote itu.
Tanganku berhenti menekan keyboard knop komputer mini milikku. Ku berbalik melihat orang yang baring disampingku, dia tidur tapi berbicara.
Ku kembelikan konsentrasiku untuk mengingat sejarah hidupku 11 tahun silam.
Sejak hari itu, setiap mama –begitu aku memanggil orang yang melahirkanku itu- menyuruhku melakukan apapun, aku tidak pernah lagi merasa malu.
Sejak hari itu pula, jiwa berwirausahaku hidup. Entah mengapa, dimanapun aku pergi jiwa itu selalu menyeruak.
fit, –ini nama sepupu perempuanku yang juga seorang pengayuh sepeda berkeliling desa menemaniku berjualan- berangkat ke lorong baru duluan saja, nanti aku menyusul” kataku sambil mengikat box jalangkote di boncengan sepeda. Hari ini fitri –itu nama lengkapnya- sedang tidak membawa barang dari mama, dia sendang membawa barang dagangan milik saingan bisnis kami yang masih saudara kandung mama.
Hari itu, aku mengayuh sepeda menuju lorong baru. Kususuri jalan yang berdebu ditengah terik matahari. Belum seorangpun yang memanggilku untuk singgah dikolong rumahnya, tempat orang-orang kampung membeli barang daganganku. Tanpa menyerah, kukayuh sepeda itu. Lagi dan lagi. Kulalui kebun kakao yang dimiliki orang-orang sampai akhirnya aku melihat sekumpulan orang yang membeli barang bawaan fitri.
Ku berhenti diperbatasan kebun dengan perumahan warga sambil menurunkan jalangkote milikku. Ku makan jatah yang telah disiapkan mama dari rumah. Sambil meneteskan air mata, ku kunyah jalangkote itu. Hatiku kalut, daganganku belum juga laku, padahal sore sudah tiba. Aku menangis karena merasa kasihan dengan ibu yang bangun jam 2 malam menyiapkan semua jualan, namun tak jua ada yang laku.
Tanpa kusadari, sepupuku melihat tingkahku yang aneh itu. Melihat dia mendekat kearahku, cepat-cepat ku usap air mata dipipi.
kamu kenapa, nangis ya?” sapa nya.
tidak, ini makan dulu. Ayo berangkat” jawabku.
Ku istirahatkan jari dari menekan keyboard knop, sambil meluruskan tulang belakang yang sedari tadi duduk. Ku tersenyum simpul mengingat masa kecil itu.
Pikiranku berusaha mengingat masa kecil itu lagi, kali ini tergambar jelas dikepalaku jalangkote yang basah terendam air sungai karena keranjangnya terlepas dari boncengan belakang sepedaku saat menuruni turunan jembatan lorong camming. Jalangkote itu jatuh tepat ditengah-tengah jembatan yang kebetulan sedang berlubang. Dan, bruak. Keranjang jalankote terjun bebas ke sungai.
Aku pulang dengan perasaan takut akan dimarah Bapak. Namun sesampai di rumah, Bapak hanya mengatakan “lain kali hati-hati nak”.
Inilah sifat Bapak. Beliau adalah seorang yang sangat pendiam. Sejak dulu, saya dan Bapak jarang bercanda. Namun sekarang, setelah aku kuliah beliau hamper setiap hari menelpon. Akhirnya ku sadari juga, jika kita ingin akrab dengan keduaorang tua kita maka kitalah yang harus memulainya.