23 August 2014
2 August 2014
REGIO #5
Belum hilang
dari ingatanku pengalaman praktik klinik di RSUD DR. Soetijono Blora,
hari ini praktik klinik semester IV baru saja terlewati. Tentu saja
selalu ada hal baru dari kegiatan rutin kampus ini. Jika beberapa
bulan yang lalu praktikku di RSUD Blora bertemu orang dengan HIV-AIDS
(ODHA), praktik semester IV di RSJ Grhasia DIY ini aku malah bertemu
dengan #lali jiwo atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sebenarnya
cukup bijak memanggil mereka dengan sebutan 'orang dengan gangguan
jiwa', jika dibandingkan dengan orang-orang diluar sana yang menyebut
pasien #lali jiwo ini dengan kata (maaf) orang gila. Wah, kata itu
terlalu menusuk dan mengkultuskan mereka bahwa seolah-olah mereka
adalah orang jahat, pengganggu, dan sangat perlu untuk dijauhi.
Kawan-kawan,
sebenarnya pikiran kita tentang ODGJ selama ini masih salah. Maaf ya,
saya tidak mengajari anda loh. Ini hanya berbagi pengalaman saya
saja. Banyak diantara mereka yang tidak seperti apa yang kita
bayangkan. Diantara mereka banyak yang butuh perhatian dan butuh
teman ngobrol. Tetapi banyak juga yang masih tidak dapat mengotrol
dirinya, orang-orang yang seperti ini yang belum bisa kita dekati.
Sebagai
kesimpulan dari praktik klinik di RSJ Grhasia ini, seperti yang
dikatakan oleh Ibu............... siapa ya, lupa aku nama beliau,
bahwa kita perlu banyak bersyukur, kita diberikan kemampuan untuk
mengontrol diri kita. Mengontrol diri ketika sedang ada masalah
dengan kembali kepada sang Pencipta. Kemudian, inti dari keadaan ODGJ
ialah seperti yang selalu dikatakan oleh dosen praktikum mata kuliah
keperawatan dewasa III, Bapak Errick Endra Cita, bahwa intinya adalah
penerimaan kita terhadap keadaan yang terjadi dalam kehidupan. Tanpa
penerimaan, kita akan berbuat semau kita sebagai pelampiasan. Hal
inilah yang banyak dialami oleh ODGJ, tidak dapat mengontrol dirinya
sendiri.
Nah, pengalaman
saya di praktik klinik kali ini seperti itu, tentu saja setiap orang
punya pengalaman yang berbeda. Semoga kita bisa mengontrol diri kita
dengan selalu ber-positif thinking atas segala keadaan. Ingat, Allah
itu bergantung pada prasangka hambanya. Jika kita membiasakan untuk
belajar ber-positif thinking kepada Allah, maka Dia akan memberikan
jalan keluar dari masalah kita. Yakin itu.
REGIO #4
Dibalik kesengan
yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada kita, pasti ada sisipan
kesedihan didalamnya.
Setelah
menamatkan pendidikan di tingkat dasar, qodarullah atas kehendak
Allah keluarga kami mengalami problem. Walhasil, dikirimlah saya ke
pondok pesantren dan orang tua pindah ke Kota Daya, Sulawesi Selatan.
Cobaan
berat itu adalah berpisahnya saya dengan kedua orang tua. Dan
perpisahan inilah yang mengajarkan saya untuk memiliki jiwa perantau,
jiwanya orang-orang suku bugis-makasar.
Bayangin
ya. Satu tahun pertama di pondok, tidak ada yang datang menjengukku.
Sebelum kedua orang tua berangkat ke Daya, aku diberi uang saku Rp
150.000. uang itu habis, kira-kira tiga bulan. Maklum, saya baru
diberi uang saku segede itu. Tahun pertama dipondok berjalan agak
normal. Aku bisa cepat menyesuaikan diri di lingkungan yang baru itu.
Tahun pertama di pondok, aku dapat banyak kakak-kakak baru yang
baik-baik. Aku sering disuruh-suruh mereka untuk beli ini itu. Dan
baiknya, aku diberi uang 'jalan' dari bantuanku itu. walhamdulillah
aku jarang 'kelaparan' karena aku selalu dapat upah uang 'jalan'.
Tahun
pertama yang indah.
Tahun
demi tahun kulalui di tempat merantauku. Di kampung orang. Banyak
pengalaman pastinya. Pahit manis, asin garam -eh sama aja ya, garam
itu asin-. Dan hal inilah yang membuatku bisa menyesuaikan diri di
manapun aku pergi. Seperti saat ini, aku masih betah meninggalkan
kampung yang lamanya sudah 1,5 tahun namun belum terbesit rasa ingin
pulang kampung.
Bermimpi
besarlah, dan usahakanlah mimpimu agar tercapai dengan usaha.
REGIO #3
Mentari pagi ini
mengalahkan sekumpulan kabut yang sejak malam membumbung mengitari
atmosfer karanggayam, piyungan. Alhamdulillah, hari ini masih bisa
merasakan segarnya udara Yogyakarta. Masih segar dalam ingatanku
minggu-minggu terakhir PKL di Kota Blora itu. Perkenalanku dengannya,
bagaimana kami bertemu kembali dan hari-hari terakhir bersamanya.
Sekedar saran buat teman-teman pembaca, jika ingin punya banyak teman
maka berlemah-lembutlah kepada mereka.
Hay, sapaku
malam ini. Aku punya rencana untuk melanjutkan cerita kecilku,
setujut?
Siang itu, ku
berkutat di dalam kamar. Sibuk memikirkan sepeda baru yang dijanjikan
ibu. Ibu janji akan membelikan sepeda baru dari uang celengan hasil
jualanku itu.
Sore itu, aku,
ibu dan afif-adikku- tiba di bengkel Anas. Masih ku ingat, waktu itu
uang yang akan dipakai untuk bayar sepedanya adalah uang recehan yang
totalnya Rp 150.000. Kagetlah sang empunya bengkel bukan kepalangnya.
Namun itu tidak mencegahku untuk memboyong sepeda mustang mini warna
biru putih itu. Senang bukan main perasaanku waktu itu. Bagaimana
tidak, aku bisa beli sepeda dari hasil keringatku sendiri. Hehehe,
bangga dong.
Nah teman-teman,
jangan malu untuk lakukan sesuatu yang kecil. Karena dari yang kecil
itulah kita bisa dapatkan sesuatu yang besar nantinya. Ok. Setuju
gak?
REGIO #2
Entah mengapa
jam segini (10:35) PM aku masih bergairah menulis. Menikmati malam
minggu pikirku. Sepulang dari alun-alun kota Blora, aku berusaha
menulis beberapa kalimat seperti ini :
Siapa yang tahu
alur hidup itu. Awal Praktik Kerja Lapangan (PKL), sekitar 4 minggu
yang lalu tanggal 20 Januari 2014, ku melakukan pengkajian Asuhan
Keperawatan (ASKEP) dengan pasien Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA.
Awalnya ku memilih mas T.
“aku boleh
ngomong sebentar mas,?” Tanya ku membuka percakapan siang itu.
“iya,
silahkan” jawabnya lemah.
“begini mas,
saya dapat tugas dari kampus untuk membuat ASKEP. Saya memilih mas
utnuk dikaji. Caranya seperti ini, saya akan bertanya ke masnya
tentang penyakit mas. Jawaban yang mas berikan akan saya rahasiakan”
ucapku mempraktikkan tehnik Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP)
Harap-harap
cemas aku menunggu jawaban dari dia, berharap di mengerti perasaanku.
Dan akhirnya jawaban itu terucap dari mulut mungilnya.
“mmm, gimana
ya mas. Saya masih takut untuk cerita” jawabnya berusaha tersenyum.
“oh iya, tidak
apa-apa kalau masnya belum siap. Terimakasih ya” jawabku kecewa
Beberapa hari
setelah ku pindah tugas di bangsal lain, mas T sudah boleh menikmati
atmosfer rumah. Dengan gembira dia pulang ke rumah didampingi ibu dan
kakaknya yang setia menemani di bangsal JPS itu. Dua minggu menghirup
udara segar rumah dan menikmati hangatnya berkumpul dengan keluarga
besar, tiba-tiba kesehatannya menurun. Pagi itu, sang ibu tercinta
menyiapkan susu hangat buat mas T. Alangkah terkejutnya sang ibu,
ketika mas T tidak lagi ingin meminum susu hangat yang disiapkan.
Bukan hanya itu, dia juga tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sang ibu
tercinta panik, dan segera membawa sang anak ke Intensive Care
Unit (ICU). Kebetulan saya sedang jaga di ruang ICU, dan
bertemulah saya kembali dengan mas T dan ibunya.
Berusaha
memahami perasaan sang ibu, dalam kesendiriannya ku berusaha
menemaninya. Mengajaknya bercerita tentang kehidupan sang anak
tercinta yang terbaring sangat kritis disampingnya.
Lima hari
dirawat diruang ICU, kondisi mas T semakin memburuk. Malam itu, Sabtu
07 Februari 2014, aku dan teman-teman lain berusaha menjaga agar
jaringan tubuh mas T tetap terisi oksigen. Dengan berusaha keras,
kami melakukan bagging (memasukkan oksigen melalui tabung yang
ditekan). 100 kali lebih aku menekan tabung itu dengan hitungan ‘satu
seribu’, dan tidak terhitung berapa kali teman-teman yang lain
melakan hal yang sama untuk menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap
tersuplai oksigen. Namun Sang pemberi nyawa berkehendak lain, waktu
mas T sudah habis. Akhirnya, aku melihat orang yang telah berjuang
untuk hidup itu pergi, nyawanya meninggalkan badannya yang terbujur
kaku di bed. Malam Sabtu, 07 Februari 2014 dia pergi.
Malam ini, ku
membayangkan lagi wajah itu. Wajah yang telah berjuangan melawan
sakit yang mungkin orang tuanya tidak mengetahui penyakitnya. Wajah
yang akan terus membuatku semangat menjalani kerasnya hidup, karena
dia telah mendahuluiku mencicipi dunia ini. Terimakasih mas T, ku
berdo’a semoga engkau di alam sana diberikan keringanan oleh Sang
Maha Kuasa. Amin.
Tak terasa sudah
pukul 11:15 PM. Jari jemariku telah lemas menekan keyboard knop
laptop mini milikku. Mata ini pun sudah tak sanggup menahan beban
berat tarikan kelopaknya.
Akhirnya, ku
tekan formula Ctrl+S untuk menjawab godaan mataku.
REGIO #1
Kupandangi layar
notebook ku, kulihat tanganku mengikuti perintah yang
diberikan oleh sang penggerak, otak. Pandanganku jauh menerawang masa
lalu.
“nak, setelah
shalat dhuhur kamu keliling jual jalangkote ya” perintah
ibuku. Orang itu adalah seorang wanita yang memiliki prinsip hidup
kokoh, tidak akan pernah menyerah dengan keadaan apapun!.
Setelah shalat
dhuhur, ku termenung melihat tumpukan tepung berisi singkong diiris
dadu dan dicampur dengan mie kering serta bumbu yang telah digoreng
itu. Ada rasa enggan dalam dadaku untuk meraih barang itu, sehingga
orang tua itu menegurku lagi.
“nak, kamu
belum berangkat. Kenapa?”
Entah mengapa
air mataku meleleh.
“aku malu bu”
ucapku lirih.
“nak, mengapa
kamu malu. Apa yang kita lakukan ini bukan perbuatan jahat kan?
Seandainya kamu diperintah untuk mencuri, kamu pantas untuk malu”
“iya bu”
ucapku sambil mengambil setumpuk tepung goreng berisi bumbu yang
telah disiapkan dalam wadah khusus yang sering kami sebut jalangkote
itu.
Tanganku
berhenti menekan keyboard knop komputer mini milikku. Ku
berbalik melihat orang yang baring disampingku, dia tidur tapi
berbicara.
Ku kembelikan
konsentrasiku untuk mengingat sejarah hidupku 11 tahun silam.
Sejak hari itu,
setiap mama –begitu aku memanggil orang yang melahirkanku itu-
menyuruhku melakukan apapun, aku tidak pernah lagi merasa malu.
Sejak hari itu
pula, jiwa berwirausahaku hidup. Entah mengapa, dimanapun aku pergi
jiwa itu selalu menyeruak.
“fit, –ini
nama sepupu perempuanku yang juga seorang pengayuh sepeda berkeliling
desa menemaniku berjualan- berangkat ke lorong baru duluan saja,
nanti aku menyusul” kataku sambil mengikat box jalangkote di
boncengan sepeda. Hari ini fitri –itu nama lengkapnya- sedang tidak
membawa barang dari mama, dia sendang membawa barang dagangan milik
saingan bisnis kami yang masih saudara kandung mama.
Hari itu, aku
mengayuh sepeda menuju lorong baru. Kususuri jalan yang berdebu
ditengah terik matahari. Belum seorangpun yang memanggilku untuk
singgah dikolong rumahnya, tempat orang-orang kampung membeli barang
daganganku. Tanpa menyerah, kukayuh sepeda itu. Lagi dan lagi.
Kulalui kebun kakao yang dimiliki orang-orang sampai akhirnya aku
melihat sekumpulan orang yang membeli barang bawaan fitri.
Ku berhenti
diperbatasan kebun dengan perumahan warga sambil menurunkan
jalangkote milikku. Ku makan jatah yang telah disiapkan mama
dari rumah. Sambil meneteskan air mata, ku kunyah jalangkote itu.
Hatiku kalut, daganganku belum juga laku, padahal sore sudah tiba.
Aku menangis karena merasa kasihan dengan ibu yang bangun jam 2 malam
menyiapkan semua jualan, namun tak jua ada yang laku.
Tanpa kusadari,
sepupuku melihat tingkahku yang aneh itu. Melihat dia mendekat
kearahku, cepat-cepat ku usap air mata dipipi.
“kamu kenapa,
nangis ya?” sapa nya.
“tidak, ini
makan dulu. Ayo berangkat” jawabku.
Ku istirahatkan
jari dari menekan keyboard knop, sambil meluruskan tulang
belakang yang sedari tadi duduk. Ku tersenyum simpul mengingat masa
kecil itu.
Pikiranku
berusaha mengingat masa kecil itu lagi, kali ini tergambar jelas
dikepalaku jalangkote yang basah terendam air sungai karena
keranjangnya terlepas dari boncengan belakang sepedaku saat menuruni
turunan jembatan lorong camming. Jalangkote itu jatuh
tepat ditengah-tengah jembatan yang kebetulan sedang berlubang. Dan,
bruak. Keranjang jalankote terjun bebas ke sungai.
Aku pulang
dengan perasaan takut akan dimarah Bapak. Namun sesampai di rumah,
Bapak hanya mengatakan “lain kali hati-hati nak”.
Inilah sifat
Bapak. Beliau adalah seorang yang sangat pendiam. Sejak dulu, saya
dan Bapak jarang bercanda. Namun sekarang, setelah aku kuliah beliau
hamper setiap hari menelpon. Akhirnya ku sadari juga, jika kita ingin
akrab dengan keduaorang tua kita maka kitalah yang harus memulainya.
Subscribe to:
Comments (Atom)