2 August 2014

REGIO #2


Entah mengapa jam segini (10:35) PM aku masih bergairah menulis. Menikmati malam minggu pikirku. Sepulang dari alun-alun kota Blora, aku berusaha menulis beberapa kalimat seperti ini :
Siapa yang tahu alur hidup itu. Awal Praktik Kerja Lapangan (PKL), sekitar 4 minggu yang lalu tanggal 20 Januari 2014, ku melakukan pengkajian Asuhan Keperawatan (ASKEP) dengan pasien Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA. Awalnya ku memilih mas T.
aku boleh ngomong sebentar mas,?” Tanya ku membuka percakapan siang itu.
iya, silahkan” jawabnya lemah.
begini mas, saya dapat tugas dari kampus untuk membuat ASKEP. Saya memilih mas utnuk dikaji. Caranya seperti ini, saya akan bertanya ke masnya tentang penyakit mas. Jawaban yang mas berikan akan saya rahasiakan” ucapku mempraktikkan tehnik Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP)
Harap-harap cemas aku menunggu jawaban dari dia, berharap di mengerti perasaanku. Dan akhirnya jawaban itu terucap dari mulut mungilnya.
mmm, gimana ya mas. Saya masih takut untuk cerita” jawabnya berusaha tersenyum.
oh iya, tidak apa-apa kalau masnya belum siap. Terimakasih ya” jawabku kecewa
Beberapa hari setelah ku pindah tugas di bangsal lain, mas T sudah boleh menikmati atmosfer rumah. Dengan gembira dia pulang ke rumah didampingi ibu dan kakaknya yang setia menemani di bangsal JPS itu. Dua minggu menghirup udara segar rumah dan menikmati hangatnya berkumpul dengan keluarga besar, tiba-tiba kesehatannya menurun. Pagi itu, sang ibu tercinta menyiapkan susu hangat buat mas T. Alangkah terkejutnya sang ibu, ketika mas T tidak lagi ingin meminum susu hangat yang disiapkan. Bukan hanya itu, dia juga tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sang ibu tercinta panik, dan segera membawa sang anak ke Intensive Care Unit (ICU). Kebetulan saya sedang jaga di ruang ICU, dan bertemulah saya kembali dengan mas T dan ibunya.
Berusaha memahami perasaan sang ibu, dalam kesendiriannya ku berusaha menemaninya. Mengajaknya bercerita tentang kehidupan sang anak tercinta yang terbaring sangat kritis disampingnya.
Lima hari dirawat diruang ICU, kondisi mas T semakin memburuk. Malam itu, Sabtu 07 Februari 2014, aku dan teman-teman lain berusaha menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap terisi oksigen. Dengan berusaha keras, kami melakukan bagging (memasukkan oksigen melalui tabung yang ditekan). 100 kali lebih aku menekan tabung itu dengan hitungan ‘satu seribu’, dan tidak terhitung berapa kali teman-teman yang lain melakan hal yang sama untuk menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap tersuplai oksigen. Namun Sang pemberi nyawa berkehendak lain, waktu mas T sudah habis. Akhirnya, aku melihat orang yang telah berjuang untuk hidup itu pergi, nyawanya meninggalkan badannya yang terbujur kaku di bed. Malam Sabtu, 07 Februari 2014 dia pergi.
Malam ini, ku membayangkan lagi wajah itu. Wajah yang telah berjuangan melawan sakit yang mungkin orang tuanya tidak mengetahui penyakitnya. Wajah yang akan terus membuatku semangat menjalani kerasnya hidup, karena dia telah mendahuluiku mencicipi dunia ini. Terimakasih mas T, ku berdo’a semoga engkau di alam sana diberikan keringanan oleh Sang Maha Kuasa. Amin.
Tak terasa sudah pukul 11:15 PM. Jari jemariku telah lemas menekan keyboard knop laptop mini milikku. Mata ini pun sudah tak sanggup menahan beban berat tarikan kelopaknya.
Akhirnya, ku tekan formula Ctrl+S untuk menjawab godaan mataku.

No comments: