Entah mengapa
jam segini (10:35) PM aku masih bergairah menulis. Menikmati malam
minggu pikirku. Sepulang dari alun-alun kota Blora, aku berusaha
menulis beberapa kalimat seperti ini :
Siapa yang tahu
alur hidup itu. Awal Praktik Kerja Lapangan (PKL), sekitar 4 minggu
yang lalu tanggal 20 Januari 2014, ku melakukan pengkajian Asuhan
Keperawatan (ASKEP) dengan pasien Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA.
Awalnya ku memilih mas T.
“aku boleh
ngomong sebentar mas,?” Tanya ku membuka percakapan siang itu.
“iya,
silahkan” jawabnya lemah.
“begini mas,
saya dapat tugas dari kampus untuk membuat ASKEP. Saya memilih mas
utnuk dikaji. Caranya seperti ini, saya akan bertanya ke masnya
tentang penyakit mas. Jawaban yang mas berikan akan saya rahasiakan”
ucapku mempraktikkan tehnik Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP)
Harap-harap
cemas aku menunggu jawaban dari dia, berharap di mengerti perasaanku.
Dan akhirnya jawaban itu terucap dari mulut mungilnya.
“mmm, gimana
ya mas. Saya masih takut untuk cerita” jawabnya berusaha tersenyum.
“oh iya, tidak
apa-apa kalau masnya belum siap. Terimakasih ya” jawabku kecewa
Beberapa hari
setelah ku pindah tugas di bangsal lain, mas T sudah boleh menikmati
atmosfer rumah. Dengan gembira dia pulang ke rumah didampingi ibu dan
kakaknya yang setia menemani di bangsal JPS itu. Dua minggu menghirup
udara segar rumah dan menikmati hangatnya berkumpul dengan keluarga
besar, tiba-tiba kesehatannya menurun. Pagi itu, sang ibu tercinta
menyiapkan susu hangat buat mas T. Alangkah terkejutnya sang ibu,
ketika mas T tidak lagi ingin meminum susu hangat yang disiapkan.
Bukan hanya itu, dia juga tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sang ibu
tercinta panik, dan segera membawa sang anak ke Intensive Care
Unit (ICU). Kebetulan saya sedang jaga di ruang ICU, dan
bertemulah saya kembali dengan mas T dan ibunya.
Berusaha
memahami perasaan sang ibu, dalam kesendiriannya ku berusaha
menemaninya. Mengajaknya bercerita tentang kehidupan sang anak
tercinta yang terbaring sangat kritis disampingnya.
Lima hari
dirawat diruang ICU, kondisi mas T semakin memburuk. Malam itu, Sabtu
07 Februari 2014, aku dan teman-teman lain berusaha menjaga agar
jaringan tubuh mas T tetap terisi oksigen. Dengan berusaha keras,
kami melakukan bagging (memasukkan oksigen melalui tabung yang
ditekan). 100 kali lebih aku menekan tabung itu dengan hitungan ‘satu
seribu’, dan tidak terhitung berapa kali teman-teman yang lain
melakan hal yang sama untuk menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap
tersuplai oksigen. Namun Sang pemberi nyawa berkehendak lain, waktu
mas T sudah habis. Akhirnya, aku melihat orang yang telah berjuang
untuk hidup itu pergi, nyawanya meninggalkan badannya yang terbujur
kaku di bed. Malam Sabtu, 07 Februari 2014 dia pergi.
Malam ini, ku
membayangkan lagi wajah itu. Wajah yang telah berjuangan melawan
sakit yang mungkin orang tuanya tidak mengetahui penyakitnya. Wajah
yang akan terus membuatku semangat menjalani kerasnya hidup, karena
dia telah mendahuluiku mencicipi dunia ini. Terimakasih mas T, ku
berdo’a semoga engkau di alam sana diberikan keringanan oleh Sang
Maha Kuasa. Amin.
Tak terasa sudah
pukul 11:15 PM. Jari jemariku telah lemas menekan keyboard knop
laptop mini milikku. Mata ini pun sudah tak sanggup menahan beban
berat tarikan kelopaknya.
Akhirnya, ku
tekan formula Ctrl+S untuk menjawab godaan mataku.
No comments:
Post a Comment