19 June 2014

TERIMA KASIH, KAKAK #1


Mentari pagi belum bersinar dipukul 7 kurang  4 menit ini.  Mungkin sinarnya masih terhalang oleh kabut awan yang sedari tadi malam bertengger diatas pemukiman saya, Pasar Kembang, Yogyakarta. Sebenarnya simple  saja sih. Saya buka notebook ini karena ingin menulis. Just it. Oh iya, sedari kemarin terpikir untuk berbagi kisah eh bukan ding, bukan kisah tapi pengalaman saya dan baru kesampaian pagi ini, walhamdulillah mumpung ada free time in this morning. Ok, are you ready to enjoy with my experience?.
Pagi itu, hari kemarin. Senin, 16 Juni 2014. Untuk yang pertama kalinya aku belajar keperawatan jiwa secara langsung di “rumah” manusia-manusia yang sedang “tidak sadarkan diri”. Banyak hal. Banyak manusia. Manyak sesuatu yang kudapat dimenit pertama itu. Pikiran “negatifku” selama ini tentang rumah sakit jiwa terbantahkan saat itu juga. Sejak kemarin terbayang dipikiranku tentang kengerian praktik di rumah sakit jiwa, dan ternyata hal itu tidak terjadi. –mungkin hal ini berbeda dengan pengalaman orang lain di rumah sakit jiwa-. Aku melihat orang-orang yang ingin sembuh. Aku melihat orang-orang yang menyadari bahwa dirinya sakit dan ingin cepat pulang berkumpul bersama keluarga.
Saat duduk di ruang tengah sambil membaca Rekam Medis (RM) pasien, datang pula anak muda duduk tidak jauh dari tempat saya duduk. Langsung kami sambut kedatangannya dengan berjabat tangan dan berkenalan. Oh, ternyata dia Mas. A. Kami ngobrol-ngobrol, pembicaraan yang ngalor ngidul waktu itu. Tapi, satu hal bahwa ngobrol bareng orang “lali jiwo” itu asik rupanya.
Hmm, mau nulis apa lagi ya. Sek, pikir sek.
Setelah perkenalan itu, kami jadi akrab. Ngobrol juga jadi enak, tidak canggung-canggung. Dihari kedua praktik, Selasa, 17  Juni 14 kami ngobrol banyak hal. Dia mulai bercerita tentang masa lalunya, tentang kehidupannya, tentang rasa sakit dalam jiwanya, tentang keinginannya untuk menjadi baik kembali yang tersirat dari tindakannya untuk melupakan rasa sakit dimasa lalu.
Tak bisa.! Tak bisa ku mengacuhkan apa yang dia katakan. Sangat ingin ku berbakti, mencurahkan isi otakku untuk mencari cara yang tepat mengungkapkan motivasi-motivasi agar dia lebih baik. Sampai saat ini, ku masih bingung dan mencari cara untuk mengatakan bahwa tindakannya untuk berubah adalah keliru. Tindakannya untuk berubah adalah berlebihan. Semoga, dia bisa cepat sembuh. Amin.
Terlahir dari keluarga yang lengkap. Lengkap kedua orang tua. Anak ke 6 dengan 7 orang saudara yang semuanya normal. Dengan kelebihan yang Allah berikan, aku dijatuhkan pada suatu keadaan yang membuatku terpukul dan hingga sekarang membuatku takut. Takut untuk dijatuhkan kembali. Mereka adalah teman-temanku di kampung. Merekalah yang menjatuhkanku kedalam lubang rasa takut. Mereka adalah temanku di pulau terbesar dari sekian banyak pulau di Negeri Republik ini.
Masih terbayang, bagaimana mereka berbuat jahat kepadaku disamping kolam ikan. Masih ku ingiat dengan jelas siapa saja yang melakukan hal itu. Pernah kuceritakan bahwa mereka pernah berbuat jahat kepadaku dikolong jembatan. Mereka memaksa, dengan iming-iming uang dan yang paling membuatku takut adalah mereka akan membunuhku. Itulah mengapa aku pernah membawa parang ketika tidur. Mereka selalu terbayang dalam pikiranku.
Ketika orang tuaku pindah ke pulau di daerah dan penduduk yang istimewa, aku masih belum bisa melupakan hal itu. Bayang orang-orang yang berbuat jahat itu masih tergambar kuat dikepalaku. Itulah mengapa aku tidak bisa melanjutkan pendidikanku hingga lulus SMP.
Dalam ketersiksaan pikiran itu, aku kalang kabut dengan doktrin sesat atas nama islam. Pikiranku akhirnya menjadikan doktrin itu untuk berubah. Berubah kearah yang lebih buruk. Itulah mengapa aku dijebloskan oleh ayahku ke “penjara” ini. Pernah kukatakan bahwa aku ingin dirawat di rumah saja. Minum obat di rumah saja. Pikiran itulah yang sering membuatku lepas kendali. Membuat pikiranku lepas kendali. Aku semakin sering mengatakan tentang hal-hal yang tidak rasional menurut mereka yang tidak sakit. Aku semakin tahu banyak hal, tahu banyak hal akan apa-apa yang tidak aku tahu sebelumnya.
Aku ingin taubat. Aku ingin taubah di makkah, kota suci itu. Kota dimana doa-doa dimustajab oleh Allah. Kenginanku sangat memuncak, itulah mengapa aku mencuri motor dan kabur dari rumah pergi ke bandara. Dan hasilnya adalah aku luka parah akibat jatuh.
Aku ingin pulang, aku ingin berubah, aku ingin melupakan masa laluku, aku rindu bapak dan mamak.

No comments: