Mentari pagi belum
bersinar dipukul 7 kurang 4 menit
ini. Mungkin sinarnya masih terhalang
oleh kabut awan yang sedari tadi malam bertengger diatas pemukiman saya, Pasar
Kembang, Yogyakarta. Sebenarnya simple
saja sih. Saya buka notebook ini karena ingin menulis. Just it. Oh iya, sedari kemarin terpikir
untuk berbagi kisah eh bukan ding, bukan kisah tapi pengalaman saya dan baru
kesampaian pagi ini, walhamdulillah mumpung ada free time in this morning. Ok, are
you ready to enjoy with my experience?.
Pagi itu, hari
kemarin. Senin, 16 Juni 2014. Untuk yang pertama kalinya aku belajar
keperawatan jiwa secara langsung di “rumah” manusia-manusia yang sedang “tidak
sadarkan diri”. Banyak hal. Banyak manusia. Manyak sesuatu yang kudapat dimenit
pertama itu. Pikiran “negatifku” selama ini tentang rumah sakit jiwa
terbantahkan saat itu juga. Sejak kemarin terbayang dipikiranku tentang
kengerian praktik di rumah sakit jiwa, dan ternyata hal itu tidak terjadi.
–mungkin hal ini berbeda dengan pengalaman orang lain di rumah sakit jiwa-. Aku
melihat orang-orang yang ingin sembuh. Aku melihat orang-orang yang menyadari
bahwa dirinya sakit dan ingin cepat pulang berkumpul bersama keluarga.
Saat duduk di ruang
tengah sambil membaca Rekam Medis (RM) pasien, datang pula anak muda duduk
tidak jauh dari tempat saya duduk. Langsung kami sambut kedatangannya dengan
berjabat tangan dan berkenalan. Oh, ternyata dia Mas. A. Kami ngobrol-ngobrol,
pembicaraan yang ngalor ngidul waktu itu. Tapi, satu hal bahwa ngobrol bareng
orang “lali jiwo” itu asik rupanya.
Hmm, mau nulis apa
lagi ya. Sek, pikir sek.
Setelah perkenalan
itu, kami jadi akrab. Ngobrol juga jadi enak, tidak canggung-canggung. Dihari
kedua praktik, Selasa, 17 Juni 14 kami
ngobrol banyak hal. Dia mulai bercerita tentang masa lalunya, tentang
kehidupannya, tentang rasa sakit dalam jiwanya, tentang keinginannya untuk
menjadi baik kembali yang tersirat dari tindakannya untuk melupakan rasa sakit
dimasa lalu.
Tak bisa.! Tak bisa
ku mengacuhkan apa yang dia katakan. Sangat ingin ku berbakti, mencurahkan isi
otakku untuk mencari cara yang tepat mengungkapkan motivasi-motivasi agar dia
lebih baik. Sampai saat ini, ku masih bingung dan mencari cara untuk mengatakan
bahwa tindakannya untuk berubah adalah keliru. Tindakannya untuk berubah adalah
berlebihan. Semoga, dia bisa cepat sembuh. Amin.
Terlahir dari keluarga yang
lengkap. Lengkap kedua orang tua. Anak ke 6 dengan 7 orang saudara yang
semuanya normal. Dengan kelebihan yang Allah berikan, aku dijatuhkan pada suatu
keadaan yang membuatku terpukul dan hingga sekarang membuatku takut. Takut
untuk dijatuhkan kembali. Mereka adalah teman-temanku di kampung. Merekalah
yang menjatuhkanku kedalam lubang rasa takut. Mereka adalah temanku di pulau
terbesar dari sekian banyak pulau di Negeri Republik ini.
Masih terbayang, bagaimana
mereka berbuat jahat kepadaku disamping kolam ikan. Masih ku ingiat dengan
jelas siapa saja yang melakukan hal itu. Pernah kuceritakan bahwa mereka pernah
berbuat jahat kepadaku dikolong jembatan. Mereka memaksa, dengan iming-iming
uang dan yang paling membuatku takut adalah mereka akan membunuhku. Itulah
mengapa aku pernah membawa parang ketika tidur. Mereka selalu terbayang dalam
pikiranku.
Ketika orang tuaku pindah ke
pulau di daerah dan penduduk yang istimewa, aku masih belum bisa melupakan hal
itu. Bayang orang-orang yang berbuat jahat itu masih tergambar kuat dikepalaku.
Itulah mengapa aku tidak bisa melanjutkan pendidikanku hingga lulus SMP.
Dalam ketersiksaan pikiran
itu, aku kalang kabut dengan doktrin sesat atas nama islam. Pikiranku akhirnya
menjadikan doktrin itu untuk berubah. Berubah kearah yang lebih buruk. Itulah
mengapa aku dijebloskan oleh ayahku ke “penjara” ini. Pernah kukatakan bahwa
aku ingin dirawat di rumah saja. Minum obat di rumah saja. Pikiran itulah yang
sering membuatku lepas kendali. Membuat pikiranku lepas kendali. Aku semakin
sering mengatakan tentang hal-hal yang tidak rasional menurut mereka yang tidak
sakit. Aku semakin tahu banyak hal, tahu banyak hal akan apa-apa yang tidak aku
tahu sebelumnya.
Aku ingin taubat. Aku ingin
taubah di makkah, kota suci itu. Kota dimana doa-doa dimustajab oleh Allah.
Kenginanku sangat memuncak, itulah mengapa aku mencuri motor dan kabur dari
rumah pergi ke bandara. Dan hasilnya adalah aku luka parah akibat jatuh.
Aku ingin pulang, aku ingin
berubah, aku ingin melupakan masa laluku, aku rindu bapak dan mamak.
No comments:
Post a Comment