19 September 2014

Sharing Pengalaman Itu Asyik

Sumber Gambar
1catholicsalmon.com
Sudah lebih dari setengah tahun kita menjabat di organisasi mahasiswa STIKes Madani Yogyakarta, namun sangat jarang kita adakan sharing pengalaman. Setelah mencoba untuk melakukan itu, ternyata sharing pengalaman itu sangat asyik.
Beberapa dari rekan-rekan sharing itu adalah ex Presiden Mahasiswa (PRESMA) di STIKes Madani Yogyakarta. Mereka berbagi tentang pengalaman mereka di organisasi, masalah yang pernah mereka hadapi dalam organisasi, dan saran yang mereka berikan agar kepengurusan BEM tahun ini berjalan dengan baik.
Diantara wejangan yang masih melekat sampai saat ini adalah re-organisasi total hanya akan dirasakan oleh pengurus BEM saja, sedang adalah milik semua mahasiswa. Wejangan dari orang yang telah berpengalaman dibidangnya itu memang bagai listrik, menyetrum sendi-sendi semangat, dan akibatnya adalah aku begadang demi menuliskan rencana prioritas organisasi kedepan.
Berorganisasi itu bagaikan membuat lubang untuk diri sendiri. Jika giat bekerja, maka tidak akan masuk lubang. Namun jika hanya numpang nama saja dalam pengurus organisasi, maka pasti akan masuk lubang.
Pengurus dalam organsasi itu ibarat orang-orang yang mensemai bibit. Meski telah selesai dari masa jabatannya, para ex pengurus ini mesti tetap memperhatikan bibit dalam organisasi yang dia semai. Tidak begitu saja kabur dan merasa lega setelah selesai. Meminjam kalimat yang senantiasa diulang-ulang oleh ex PRESMA BEM STIKes Madani Abang Azzam Fikri bahwa “meskipun Azzam itu sudah tidak lagi diBEM, bukan berarti sudah tidak punya andil lagi diBEM. Kepemimpinan Azzam sudah membuat embiro, dan dilaksanakan oleh pengurus selanjutnya”.
Dalam organisasi juga ada kebencian. Tadi malam Bang Azzam Fikri menasihatkan bahwa “bencilah pada sikap seseorang, jangan pada orangnya”. Nasihat yang sangat bijak. Banyak ide yang akan terlaksana setelah sharing itu, insya Allah.
Manfaat berorganisasi itu banyak. Tidak akan dirasakan oleh mereka yang tidak berani. Berani nembak cewek untuk hanya dijadikan boneka berby, ya bukan cowok namanya. Cowok pemberani itu adalah cowok yang memang jika dia sudah ngebet pengen nikah akan langsung ke orang tua si cewek, tidak dengan memacarinya. Kalaupun tidak diterima sama orang tua si cewek, ya sudah, berarti bukan jodoh.
Testimoni datang dari partner dekat saya diBEM, bahwa setelah dia bergabung diBEM dia jadi berani untuk menyampaikan pendapat dan memimpin kegiatan. Berani untuk sukses dalam kegiatannya dan berani tanggung risiko.
So, jika anda ingin mengasah keberanian anda, maka jangan sungkan-sungkan untuk bergabung diorganisasi. Allahu A'alam
Sekian.

23 Dzulqo'dah 1435
Salam hormat,
Ainul Rafiq

1 September 2014

Pilihan Allah Selalu yang Terbaik


Sejenak terdiam, menatap layar netbook ku. Terbayang kembali peristiwa beberapa tahun silam. Allah memang sayang kepadaku, pikirku saat ini.
nak, Mamak tidak akan pergi dari tambang ini sampai kamu menyelesaikan kuliahmu” Begitu kata Mamak diujung pembicaraan melalui telpon.
Hanya diam yang dapat kuberikan saat itu, tak tahu harus bicara apa lagi. Air mata menetes, detak jangtungku cepat, hidungku sembab dengan ingus yang sangat cair. Cepat-cepat kuakhiri pembicaraan dengan Mamak, tak tahan lagi menahan semanya.

Peristiwa ini terjadi tahun lalu, mirip dengan saat sekarang ini. Waktu itu, betul-betul kurasakan betapa sayangnya Allah dengan ku. Pengesahan Kartu Rencana Studi untuk naik kesemester II sisa hari itu, dan orang tua belum ada tanda-tanda akan mengirimkan uang pembayaran tunggakan.
Kupasrahkan semuanya saat itu, ku meminta kepada Allah pilihan yang paling baik untuk ku ambil. Cuti dari kuliah atau tetap lanjut kuliah. Ternyata Allah memberiku pilihan yang terbaik. Dia memudahkanku untuk mengurus surat dispensasi, dan semuanya begitu mudah. Sampai saat ini, aku yang akan melanjutkan ke semester V, masih menyisakan setumpuk tunggakan biaya perkuliahan. Dan setiap akan mengurus surat dispensasi, Allah memudahkan jalanku, subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar.
Allah begitu sayang dengan hamba-Nya.

Teringat lagi saat akan melaksanakan Ujian Akhir Semester Ganjil, waktu itu aku sudah duduk di semester III. Allah kembali mengajarkanku arti kesabaran. Pagi itu, UAS telah dilaksanakan, namun aku masih belum memiliki kartu ujian akibat kebijakan yayasan yang mempersulit pengurusan dispensasi. Aku dan seorang kakak tingkat diminta untuk menghadap ke kepala program studi keperawatan, kemudian beliau melimpahkan kami kesekretaris program studi. Lama kami menunggu beliau, harap-harap cemas akan diberikan kemudahan atau tidak. Namun aku selalu berpikir positiv atas pilihan Allah. Ibu sekretaris program studi kemudian memanggil kami untuk masuk ke ruangan beliau. Dan disanalah kasih sayang Allah Dia tunjukkan. Allah memudahkanku untuk mendapatkan surat izin ikut ujian. Hingga UAS usai dilaksanakan, aku masih belum bisa membayar uang perkuliahan.
Masih akan tetap kuyakini, bahwa Allah sangat-sangat sayang kepada hamba-Nya. Pilihan Allah selalu yang terbaik.

2 August 2014

REGIO #5

Belum hilang dari ingatanku pengalaman praktik klinik di RSUD DR. Soetijono Blora, hari ini praktik klinik semester IV baru saja terlewati. Tentu saja selalu ada hal baru dari kegiatan rutin kampus ini. Jika beberapa bulan yang lalu praktikku di RSUD Blora bertemu orang dengan HIV-AIDS (ODHA), praktik semester IV di RSJ Grhasia DIY ini aku malah bertemu dengan #lali jiwo atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sebenarnya cukup bijak memanggil mereka dengan sebutan 'orang dengan gangguan jiwa', jika dibandingkan dengan orang-orang diluar sana yang menyebut pasien #lali jiwo ini dengan kata (maaf) orang gila. Wah, kata itu terlalu menusuk dan mengkultuskan mereka bahwa seolah-olah mereka adalah orang jahat, pengganggu, dan sangat perlu untuk dijauhi.
Kawan-kawan, sebenarnya pikiran kita tentang ODGJ selama ini masih salah. Maaf ya, saya tidak mengajari anda loh. Ini hanya berbagi pengalaman saya saja. Banyak diantara mereka yang tidak seperti apa yang kita bayangkan. Diantara mereka banyak yang butuh perhatian dan butuh teman ngobrol. Tetapi banyak juga yang masih tidak dapat mengotrol dirinya, orang-orang yang seperti ini yang belum bisa kita dekati.
Sebagai kesimpulan dari praktik klinik di RSJ Grhasia ini, seperti yang dikatakan oleh Ibu............... siapa ya, lupa aku nama beliau, bahwa kita perlu banyak bersyukur, kita diberikan kemampuan untuk mengontrol diri kita. Mengontrol diri ketika sedang ada masalah dengan kembali kepada sang Pencipta. Kemudian, inti dari keadaan ODGJ ialah seperti yang selalu dikatakan oleh dosen praktikum mata kuliah keperawatan dewasa III, Bapak Errick Endra Cita, bahwa intinya adalah penerimaan kita terhadap keadaan yang terjadi dalam kehidupan. Tanpa penerimaan, kita akan berbuat semau kita sebagai pelampiasan. Hal inilah yang banyak dialami oleh ODGJ, tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.
Nah, pengalaman saya di praktik klinik kali ini seperti itu, tentu saja setiap orang punya pengalaman yang berbeda. Semoga kita bisa mengontrol diri kita dengan selalu ber-positif thinking atas segala keadaan. Ingat, Allah itu bergantung pada prasangka hambanya. Jika kita membiasakan untuk belajar ber-positif thinking kepada Allah, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari masalah kita. Yakin itu.

REGIO #4


Dibalik kesengan yang Allah subhanahu wata'ala berikan kepada kita, pasti ada sisipan kesedihan didalamnya.
Setelah menamatkan pendidikan di tingkat dasar, qodarullah atas kehendak Allah keluarga kami mengalami problem. Walhasil, dikirimlah saya ke pondok pesantren dan orang tua pindah ke Kota Daya, Sulawesi Selatan.
Cobaan berat itu adalah berpisahnya saya dengan kedua orang tua. Dan perpisahan inilah yang mengajarkan saya untuk memiliki jiwa perantau, jiwanya orang-orang suku bugis-makasar.
Bayangin ya. Satu tahun pertama di pondok, tidak ada yang datang menjengukku. Sebelum kedua orang tua berangkat ke Daya, aku diberi uang saku Rp 150.000. uang itu habis, kira-kira tiga bulan. Maklum, saya baru diberi uang saku segede itu. Tahun pertama dipondok berjalan agak normal. Aku bisa cepat menyesuaikan diri di lingkungan yang baru itu. Tahun pertama di pondok, aku dapat banyak kakak-kakak baru yang baik-baik. Aku sering disuruh-suruh mereka untuk beli ini itu. Dan baiknya, aku diberi uang 'jalan' dari bantuanku itu. walhamdulillah aku jarang 'kelaparan' karena aku selalu dapat upah uang 'jalan'.
Tahun pertama yang indah.
Tahun demi tahun kulalui di tempat merantauku. Di kampung orang. Banyak pengalaman pastinya. Pahit manis, asin garam -eh sama aja ya, garam itu asin-. Dan hal inilah yang membuatku bisa menyesuaikan diri di manapun aku pergi. Seperti saat ini, aku masih betah meninggalkan kampung yang lamanya sudah 1,5 tahun namun belum terbesit rasa ingin pulang kampung.
Bermimpi besarlah, dan usahakanlah mimpimu agar tercapai dengan usaha.

REGIO #3


Mentari pagi ini mengalahkan sekumpulan kabut yang sejak malam membumbung mengitari atmosfer karanggayam, piyungan. Alhamdulillah, hari ini masih bisa merasakan segarnya udara Yogyakarta. Masih segar dalam ingatanku minggu-minggu terakhir PKL di Kota Blora itu. Perkenalanku dengannya, bagaimana kami bertemu kembali dan hari-hari terakhir bersamanya. Sekedar saran buat teman-teman pembaca, jika ingin punya banyak teman maka berlemah-lembutlah kepada mereka.
Hay, sapaku malam ini. Aku punya rencana untuk melanjutkan cerita kecilku, setujut?
Siang itu, ku berkutat di dalam kamar. Sibuk memikirkan sepeda baru yang dijanjikan ibu. Ibu janji akan membelikan sepeda baru dari uang celengan hasil jualanku itu.
Sore itu, aku, ibu dan afif-adikku- tiba di bengkel Anas. Masih ku ingat, waktu itu uang yang akan dipakai untuk bayar sepedanya adalah uang recehan yang totalnya Rp 150.000. Kagetlah sang empunya bengkel bukan kepalangnya. Namun itu tidak mencegahku untuk memboyong sepeda mustang mini warna biru putih itu. Senang bukan main perasaanku waktu itu. Bagaimana tidak, aku bisa beli sepeda dari hasil keringatku sendiri. Hehehe, bangga dong.
Nah teman-teman, jangan malu untuk lakukan sesuatu yang kecil. Karena dari yang kecil itulah kita bisa dapatkan sesuatu yang besar nantinya. Ok. Setuju gak?

REGIO #2


Entah mengapa jam segini (10:35) PM aku masih bergairah menulis. Menikmati malam minggu pikirku. Sepulang dari alun-alun kota Blora, aku berusaha menulis beberapa kalimat seperti ini :
Siapa yang tahu alur hidup itu. Awal Praktik Kerja Lapangan (PKL), sekitar 4 minggu yang lalu tanggal 20 Januari 2014, ku melakukan pengkajian Asuhan Keperawatan (ASKEP) dengan pasien Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA. Awalnya ku memilih mas T.
aku boleh ngomong sebentar mas,?” Tanya ku membuka percakapan siang itu.
iya, silahkan” jawabnya lemah.
begini mas, saya dapat tugas dari kampus untuk membuat ASKEP. Saya memilih mas utnuk dikaji. Caranya seperti ini, saya akan bertanya ke masnya tentang penyakit mas. Jawaban yang mas berikan akan saya rahasiakan” ucapku mempraktikkan tehnik Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP)
Harap-harap cemas aku menunggu jawaban dari dia, berharap di mengerti perasaanku. Dan akhirnya jawaban itu terucap dari mulut mungilnya.
mmm, gimana ya mas. Saya masih takut untuk cerita” jawabnya berusaha tersenyum.
oh iya, tidak apa-apa kalau masnya belum siap. Terimakasih ya” jawabku kecewa
Beberapa hari setelah ku pindah tugas di bangsal lain, mas T sudah boleh menikmati atmosfer rumah. Dengan gembira dia pulang ke rumah didampingi ibu dan kakaknya yang setia menemani di bangsal JPS itu. Dua minggu menghirup udara segar rumah dan menikmati hangatnya berkumpul dengan keluarga besar, tiba-tiba kesehatannya menurun. Pagi itu, sang ibu tercinta menyiapkan susu hangat buat mas T. Alangkah terkejutnya sang ibu, ketika mas T tidak lagi ingin meminum susu hangat yang disiapkan. Bukan hanya itu, dia juga tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sang ibu tercinta panik, dan segera membawa sang anak ke Intensive Care Unit (ICU). Kebetulan saya sedang jaga di ruang ICU, dan bertemulah saya kembali dengan mas T dan ibunya.
Berusaha memahami perasaan sang ibu, dalam kesendiriannya ku berusaha menemaninya. Mengajaknya bercerita tentang kehidupan sang anak tercinta yang terbaring sangat kritis disampingnya.
Lima hari dirawat diruang ICU, kondisi mas T semakin memburuk. Malam itu, Sabtu 07 Februari 2014, aku dan teman-teman lain berusaha menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap terisi oksigen. Dengan berusaha keras, kami melakukan bagging (memasukkan oksigen melalui tabung yang ditekan). 100 kali lebih aku menekan tabung itu dengan hitungan ‘satu seribu’, dan tidak terhitung berapa kali teman-teman yang lain melakan hal yang sama untuk menjaga agar jaringan tubuh mas T tetap tersuplai oksigen. Namun Sang pemberi nyawa berkehendak lain, waktu mas T sudah habis. Akhirnya, aku melihat orang yang telah berjuang untuk hidup itu pergi, nyawanya meninggalkan badannya yang terbujur kaku di bed. Malam Sabtu, 07 Februari 2014 dia pergi.
Malam ini, ku membayangkan lagi wajah itu. Wajah yang telah berjuangan melawan sakit yang mungkin orang tuanya tidak mengetahui penyakitnya. Wajah yang akan terus membuatku semangat menjalani kerasnya hidup, karena dia telah mendahuluiku mencicipi dunia ini. Terimakasih mas T, ku berdo’a semoga engkau di alam sana diberikan keringanan oleh Sang Maha Kuasa. Amin.
Tak terasa sudah pukul 11:15 PM. Jari jemariku telah lemas menekan keyboard knop laptop mini milikku. Mata ini pun sudah tak sanggup menahan beban berat tarikan kelopaknya.
Akhirnya, ku tekan formula Ctrl+S untuk menjawab godaan mataku.

REGIO #1

Kupandangi layar notebook ku, kulihat tanganku mengikuti perintah yang diberikan oleh sang penggerak, otak. Pandanganku jauh menerawang masa lalu.
nak, setelah shalat dhuhur kamu keliling jual jalangkote ya” perintah ibuku. Orang itu adalah seorang wanita yang memiliki prinsip hidup kokoh, tidak akan pernah menyerah dengan keadaan apapun!.
Setelah shalat dhuhur, ku termenung melihat tumpukan tepung berisi singkong diiris dadu dan dicampur dengan mie kering serta bumbu yang telah digoreng itu. Ada rasa enggan dalam dadaku untuk meraih barang itu, sehingga orang tua itu menegurku lagi.
nak, kamu belum berangkat. Kenapa?”
Entah mengapa air mataku meleleh.
aku malu bu” ucapku lirih.
nak, mengapa kamu malu. Apa yang kita lakukan ini bukan perbuatan jahat kan? Seandainya kamu diperintah untuk mencuri, kamu pantas untuk malu”
iya bu” ucapku sambil mengambil setumpuk tepung goreng berisi bumbu yang telah disiapkan dalam wadah khusus yang sering kami sebut jalangkote itu.
Tanganku berhenti menekan keyboard knop komputer mini milikku. Ku berbalik melihat orang yang baring disampingku, dia tidur tapi berbicara.
Ku kembelikan konsentrasiku untuk mengingat sejarah hidupku 11 tahun silam.
Sejak hari itu, setiap mama –begitu aku memanggil orang yang melahirkanku itu- menyuruhku melakukan apapun, aku tidak pernah lagi merasa malu.
Sejak hari itu pula, jiwa berwirausahaku hidup. Entah mengapa, dimanapun aku pergi jiwa itu selalu menyeruak.
fit, –ini nama sepupu perempuanku yang juga seorang pengayuh sepeda berkeliling desa menemaniku berjualan- berangkat ke lorong baru duluan saja, nanti aku menyusul” kataku sambil mengikat box jalangkote di boncengan sepeda. Hari ini fitri –itu nama lengkapnya- sedang tidak membawa barang dari mama, dia sendang membawa barang dagangan milik saingan bisnis kami yang masih saudara kandung mama.
Hari itu, aku mengayuh sepeda menuju lorong baru. Kususuri jalan yang berdebu ditengah terik matahari. Belum seorangpun yang memanggilku untuk singgah dikolong rumahnya, tempat orang-orang kampung membeli barang daganganku. Tanpa menyerah, kukayuh sepeda itu. Lagi dan lagi. Kulalui kebun kakao yang dimiliki orang-orang sampai akhirnya aku melihat sekumpulan orang yang membeli barang bawaan fitri.
Ku berhenti diperbatasan kebun dengan perumahan warga sambil menurunkan jalangkote milikku. Ku makan jatah yang telah disiapkan mama dari rumah. Sambil meneteskan air mata, ku kunyah jalangkote itu. Hatiku kalut, daganganku belum juga laku, padahal sore sudah tiba. Aku menangis karena merasa kasihan dengan ibu yang bangun jam 2 malam menyiapkan semua jualan, namun tak jua ada yang laku.
Tanpa kusadari, sepupuku melihat tingkahku yang aneh itu. Melihat dia mendekat kearahku, cepat-cepat ku usap air mata dipipi.
kamu kenapa, nangis ya?” sapa nya.
tidak, ini makan dulu. Ayo berangkat” jawabku.
Ku istirahatkan jari dari menekan keyboard knop, sambil meluruskan tulang belakang yang sedari tadi duduk. Ku tersenyum simpul mengingat masa kecil itu.
Pikiranku berusaha mengingat masa kecil itu lagi, kali ini tergambar jelas dikepalaku jalangkote yang basah terendam air sungai karena keranjangnya terlepas dari boncengan belakang sepedaku saat menuruni turunan jembatan lorong camming. Jalangkote itu jatuh tepat ditengah-tengah jembatan yang kebetulan sedang berlubang. Dan, bruak. Keranjang jalankote terjun bebas ke sungai.
Aku pulang dengan perasaan takut akan dimarah Bapak. Namun sesampai di rumah, Bapak hanya mengatakan “lain kali hati-hati nak”.
Inilah sifat Bapak. Beliau adalah seorang yang sangat pendiam. Sejak dulu, saya dan Bapak jarang bercanda. Namun sekarang, setelah aku kuliah beliau hamper setiap hari menelpon. Akhirnya ku sadari juga, jika kita ingin akrab dengan keduaorang tua kita maka kitalah yang harus memulainya.

19 June 2014

TERIMA KASIH, KAKAK #1


Mentari pagi belum bersinar dipukul 7 kurang  4 menit ini.  Mungkin sinarnya masih terhalang oleh kabut awan yang sedari tadi malam bertengger diatas pemukiman saya, Pasar Kembang, Yogyakarta. Sebenarnya simple  saja sih. Saya buka notebook ini karena ingin menulis. Just it. Oh iya, sedari kemarin terpikir untuk berbagi kisah eh bukan ding, bukan kisah tapi pengalaman saya dan baru kesampaian pagi ini, walhamdulillah mumpung ada free time in this morning. Ok, are you ready to enjoy with my experience?.
Pagi itu, hari kemarin. Senin, 16 Juni 2014. Untuk yang pertama kalinya aku belajar keperawatan jiwa secara langsung di “rumah” manusia-manusia yang sedang “tidak sadarkan diri”. Banyak hal. Banyak manusia. Manyak sesuatu yang kudapat dimenit pertama itu. Pikiran “negatifku” selama ini tentang rumah sakit jiwa terbantahkan saat itu juga. Sejak kemarin terbayang dipikiranku tentang kengerian praktik di rumah sakit jiwa, dan ternyata hal itu tidak terjadi. –mungkin hal ini berbeda dengan pengalaman orang lain di rumah sakit jiwa-. Aku melihat orang-orang yang ingin sembuh. Aku melihat orang-orang yang menyadari bahwa dirinya sakit dan ingin cepat pulang berkumpul bersama keluarga.
Saat duduk di ruang tengah sambil membaca Rekam Medis (RM) pasien, datang pula anak muda duduk tidak jauh dari tempat saya duduk. Langsung kami sambut kedatangannya dengan berjabat tangan dan berkenalan. Oh, ternyata dia Mas. A. Kami ngobrol-ngobrol, pembicaraan yang ngalor ngidul waktu itu. Tapi, satu hal bahwa ngobrol bareng orang “lali jiwo” itu asik rupanya.
Hmm, mau nulis apa lagi ya. Sek, pikir sek.
Setelah perkenalan itu, kami jadi akrab. Ngobrol juga jadi enak, tidak canggung-canggung. Dihari kedua praktik, Selasa, 17  Juni 14 kami ngobrol banyak hal. Dia mulai bercerita tentang masa lalunya, tentang kehidupannya, tentang rasa sakit dalam jiwanya, tentang keinginannya untuk menjadi baik kembali yang tersirat dari tindakannya untuk melupakan rasa sakit dimasa lalu.
Tak bisa.! Tak bisa ku mengacuhkan apa yang dia katakan. Sangat ingin ku berbakti, mencurahkan isi otakku untuk mencari cara yang tepat mengungkapkan motivasi-motivasi agar dia lebih baik. Sampai saat ini, ku masih bingung dan mencari cara untuk mengatakan bahwa tindakannya untuk berubah adalah keliru. Tindakannya untuk berubah adalah berlebihan. Semoga, dia bisa cepat sembuh. Amin.
Terlahir dari keluarga yang lengkap. Lengkap kedua orang tua. Anak ke 6 dengan 7 orang saudara yang semuanya normal. Dengan kelebihan yang Allah berikan, aku dijatuhkan pada suatu keadaan yang membuatku terpukul dan hingga sekarang membuatku takut. Takut untuk dijatuhkan kembali. Mereka adalah teman-temanku di kampung. Merekalah yang menjatuhkanku kedalam lubang rasa takut. Mereka adalah temanku di pulau terbesar dari sekian banyak pulau di Negeri Republik ini.
Masih terbayang, bagaimana mereka berbuat jahat kepadaku disamping kolam ikan. Masih ku ingiat dengan jelas siapa saja yang melakukan hal itu. Pernah kuceritakan bahwa mereka pernah berbuat jahat kepadaku dikolong jembatan. Mereka memaksa, dengan iming-iming uang dan yang paling membuatku takut adalah mereka akan membunuhku. Itulah mengapa aku pernah membawa parang ketika tidur. Mereka selalu terbayang dalam pikiranku.
Ketika orang tuaku pindah ke pulau di daerah dan penduduk yang istimewa, aku masih belum bisa melupakan hal itu. Bayang orang-orang yang berbuat jahat itu masih tergambar kuat dikepalaku. Itulah mengapa aku tidak bisa melanjutkan pendidikanku hingga lulus SMP.
Dalam ketersiksaan pikiran itu, aku kalang kabut dengan doktrin sesat atas nama islam. Pikiranku akhirnya menjadikan doktrin itu untuk berubah. Berubah kearah yang lebih buruk. Itulah mengapa aku dijebloskan oleh ayahku ke “penjara” ini. Pernah kukatakan bahwa aku ingin dirawat di rumah saja. Minum obat di rumah saja. Pikiran itulah yang sering membuatku lepas kendali. Membuat pikiranku lepas kendali. Aku semakin sering mengatakan tentang hal-hal yang tidak rasional menurut mereka yang tidak sakit. Aku semakin tahu banyak hal, tahu banyak hal akan apa-apa yang tidak aku tahu sebelumnya.
Aku ingin taubat. Aku ingin taubah di makkah, kota suci itu. Kota dimana doa-doa dimustajab oleh Allah. Kenginanku sangat memuncak, itulah mengapa aku mencuri motor dan kabur dari rumah pergi ke bandara. Dan hasilnya adalah aku luka parah akibat jatuh.
Aku ingin pulang, aku ingin berubah, aku ingin melupakan masa laluku, aku rindu bapak dan mamak.

11 June 2014

KEBIJAKAN ANDA MEMPERSULIT, BUKAN MEMBANTU !



Bismillah.
Walhamdulillah, segala puji bagi Allah atas karunia ni'mat yang Dia berikan.
Apapun yang anda lakukan, tidak akan pernah lepas dari kesulitan dan cobaan. Diantara manusia, ada sipembuat kebijakan dan ada pula penerima kebijakan. Ini berlaku dalam institusi. Namun apa jadinya bila suatu kebijakan tidak memihak kepada sasaran kebijakan tersebut, malah mempersulit dan terkesan tidak mengamalkan perintah Allah dan Rosulnya dalam hal tolong menolong dan memudahkan urusan sesama muslim, inilah laporan seorang mahasiswa.
Pendidikan merupakan kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini dijamin dalam UU Negara Republik Indonesia. Dalam agama Islam, pendidikan/belajar juga adalah perintah, yang sudah sering kita dengar hadits dan ayatnya.
Penyelenggara pendidikan adalah mereka yang memiliki niat baik dan tulus untuk mencerdaskan anak bangsa guna menjadi pemimpin. Memimpin diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Pendidikan dalam hal ini ialah pendidikan agama dan pendidikan umum.
Kebijakan yang dibuat oleh penyelenggara pendidikan tentusaja dimaksudkan bagi tercapainya kebaikan si penerima pendidikan yaitu siswa/mahasiswa.
Namun, apa jadinya jika kebijakan tersebut justru sangat tidak mendukung kegiatan belajar siswa/mahasiswa? tentu jawabannya kita kembalikan kepada si pembuat kebijakan. Namun bila jawabannya adalah hanya masalah besarnya biaya tunggakan? sebagai mahasiswa, kami ingin mengatakan bahwa kebijakan ini tidak pro kepada mahasiswa. Kebijakan ini sangat tidak menguntungkan kaum muslimin yang kekurangan dana dan ingin membangun dan mengembangkan talentanya demi masa depan yang baik.
Menghilangkan dispensasi adalah kebijakan yang tidak pro. Dan menurut kami, hal ini akan membuat masyarakat memicingkan mata melihat tempat pembuat kebijakan. Mungkin ada diantara mereka yang akan mengatakan "Katanya menyelenggarakan pendidikan islam, tapi kok untuk membantu sesama kaum muslimin tidak mau?".
Semoga hal ini dapat mewakili ungkapan perasaan kami. Kami ingat dengan apa yang dikatakan oleh seorang yang telah kami anggap orang tua di STIKes Madani "kita dapat mengungkapkan apa yang tidak kita sukai dan sulit untuk diucapkan oleh lidah melalui tulisan". Wallahu A'lam bish-showab.
Semoga Bermanfaat.

Rabu, 10 Juni 2014
Oleh Ainul Rafiq

2 June 2014

LAJUKAN MEMORI OTAKMU


Oleh Abdiyat Sakrie

Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada 2008 - Ma'had Al Ilmi Yogyakarta 2010 - Tim Kesehatan Peduli Muslim
“Use it or lose it.”



Apakah anda masih mengingat pelajaran kimia saat di SMA dulu? Atau apakah anda masih mengingat pelajaran di bangku kuliah anda? Bagaimana dengan masa kecil anda saat masih berumur 5 tahun? Masih adakah yang mengingatnya secara jelas?
Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang paling baik. Manusia dianugerahi otak yang merupakan organ yang luar biasa. Salah satu fungsi otak adalah sebagai sumber memori, tepatnya di area korteks dan hipokampus. Seluruh informasi yang masuk melalui panca indera akan masuk ke dalam otak dan diproses menjadi sebuah persepsi. Sebagian persepsi akan menjadi memori dan sebagian lagi tidak meninggalkan apa-apa alias hilang. Sebagai contoh nyatanya adalah ingatan anda saat ini. Coba anda perhatikan seberapa baik memori yang ada di kepala anda dengan mengingat masa lalu anda, sebagian ada yang dapat anda ingat dan sebagian lagi rasanya sulit untuk diingat. Benarkah?
Kemampuan mengingat dan menghafal informasi yang masuk ke otak dimiliki oleh setiap manusia. Perbedaannya adalah pada kualitas membuat memori dan mempertahankannya. Mungkin tidak jarang anda merasakan betapa susahnya menghafal nama orang yang baru anda kenal. Sebagian mahasiswa merasa susah menghafal pelajaran untuk persiapan ujian akhir semesternya. Karyawan yang mudah lupa materi seminar yang baru saja ia ikuti seminggu yang lalu. Ya, hampir semua orang mengalaminya. Disini, kami akan memberi tips kepada pembaca sekalian tentang bagaimana prinsip untuk menghafal yang baik sehingga memiliki memori yang kuat.
Perlu diketahui, memori dibagi menjadi dua; short term memory (memori jangka panjang) dan long term memory (memori jangka pendek). Masing-masingnya memiliki syarat yang harus dipenuhi untuk membentuknya. Mungkin saja selama ini anda belum memenuhi syarat tersebut.
  1. Short Term Memomy
M inat
U saha
K onsentrasi
A tensi
Perlu anda ketahui, otak anda cenderung akan mengingat sesuatu yang anda minati. Misalnya anda minat tentang dunia otomotif, pikiran anda akan mudah tertarik untuk mengingatnya. Begitu pula dengan menghafal pelajaran, otak akan mudah menghafal pelajaran yang anda minati. Oleh karena itu tugas anda pertama sekali adalah menyenangi sesuatu yang anda ingin hafalkan. Dan hal ini adalah pondasi utama dalam prinsip pembentukan memori. Karena otak anda cenderung mengabaikan segala sesuatu yang tidak anda sukai. Lalu, bagaimana mungkin anda dapat menghafal pelajaran sedangkan anda tidak menyukainya? Maka dari itu pastikan apakah anda sudah berada pada jurusan kuliah yang benar atau belum. Jurusan yang sesuai dengan hasrat dan keinginan anda. Atau untuk para karyawan misalnya, pastikan pula pekerjaan yang sedang anda lakoni adalah pekerjaan yang sesuai dengan passion anda. Karena jika minat tidak terpenuhi maka akan sulit untuk memberi usaha, konsentrasi dan atensi pada hal tersebut. Jika terpenuhi, anda hanya perlu sedikit usaha lagi untuk memberi konsentrasi dan atensi pada sesuatu yang akan anda ingat.
  1. Long Term Memory
L atihan
U langi
P erhatian
A sosiasi
Jika anda ingin membentuk long term memory, anda harus melatih otak anda untuk mengulang-ulang hafalan. Dengan mengulang-ulang hafalan, otak akan terangsang secara berulang sehingga meningkatkan memori pada sel-sel otak. Anda juga harus memberi perhatian pada hafalan tersebut. Jika anda menginginkan hafalan yang sempurna, anda dapat melakukan asosiasi hafalan. Anda dapat mengasosiasikan hafalan anda dengan pengetahuan yang telah anda miliki. Anda hubungkan hafalan yang baru dengan sesuatu yang pernah anda ketahui, anda ciptakan suatu asosiasi baru yang berbentuk suatu konsep baru. Asosiasi itu berasal dari kemampuan imajinasi otak anda menghubungkan satu hal dengan lainnya. Hal ini yang dikenal dengan pemahaman. Anda bukan hanya sekedar hafal, namun anda dapat menjelaskannya secara gamblang dan mengaitkannya dengan berbagai hal lain. Maka cobalah untuk melatih otak mengulang hafalan, fokus, dan mengasosiasikan hafalan-hafalan baru dengan sesuatu yang pernah kita tahu. Metode ini dapat anda aplikasikan setiap kali anda menerima informasi, baik itu berupa ilmu pelajaran, ilmu agama ataupun informasi kantor anda. Gunakan otak anda atau anda akan kehilangannya. Selamat mencoba dan rasakan manfaatnya.
Sumber : http://kesehatanmuslim.com/mengapa-susah-menghafal

1 June 2014

BUKAN DIA. CINTAMU


Siapa yang tahu cinta itu. Datang dan pergi begitu saja. Cinta itu palsu, jika tidak dibangun diatas pondasi yang benar.
Pernahkah dirimu kenal dengan seorang wanita, kemudian akrab dengannya namun tidak lama berselang keakraban itu putus?
Penulis pernah mengalami hal ini.
Waktu itu, trand dan issue yang sedang booming di kampus adalah tema MENIKAH. Hmm, tema ini tidak akan pernah mbosenin. Ceritanya, waktu itu kakak saya mengenalkan saya dengan seorang akhwat. Dia baik; Sholehah, insyaAllah. Sebenarnya maksud kakak saya ini bukan untuk membuat saya pacaran dengan si akhwat. Cuman waktu itu dia ngasih pilihan ke saya. Mau kenalan dengan si akhwat atau tidak.
Beberapa hari berselang, kamipun akrab. Akrab banget gitu. Awal saya bicara langsung dengan dia via telepon, dag-dig-dug. Maklum, ini kali pertama saya ngobrol dengan akhwat. Dan juga waktu itu saya langsung me'nembak' si akhwat dengan mengajaknya menikah. Wow.
Dalam pembicaraan via telepon itu, kesimpulannya adalah : jika si akhwat mau 'dekat' dengan saya, maka syaratnya adalah kita harus nikah secepatnya. Maklum, waktu itu saya tidak mau memiliki hubungan dengan akhwat dengan ikatan yang dilarang oleh agama. So, kemudian. Setan menjungkir balikkan niat kami. Sambil menunggu keputusan orang tua, kami telah dibutakan oleh setan. Sempat juga waktu itu merasakan tidak bisa konsentrasi belajar karena 'berpacaran' via sms dan telpon.
Seminggu kemudian, jawaban dari ibu datang. Intinya adalah beliau tidak setuju. Ibu menyampaikan hal ini diwaktu sore hari. Dan ketika malam harinya, saya langsung telepon akhwatnya dan memberitahukan apa yang ibu katakan. Dan, Malam itu juga kami putus. Iya putus ber'pacaran'. Malam itu, berkali-kali saya minta maaf ke dia. "Jangan kecewa, jika memang kita jodoh, InsyaAllah suatu saat kita akan bertemu kembali dalam ikatan halal". Namun, tetap saja dia memendam hal ini. Membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dalam beraktivitas. Hingga suatu malam, entah siapa yang memulai. Saya lupa. Dia membacakan isi hatinya yang dia tulis dalam sebuah kertas. Kalimat yang terkadang jika saat ini saya dengar, saya akan mengingat hal itu. Kalimat itu : Cintailah seseorang sekedarnya saja, Karena bisa jadi suatu saat dia berubah menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah seseorang sekedarnya saja, karena suatu saat dia mungkin akan menjadi orang yang kamu cintai.
Setahun Berselang dari peristiwa itu. Kutinggalkan semua hal itu karena mengharap yang lebih baik. Allah juga telah berjanji bahwa jika kita meninggalkan keburukan karena Allah, maka Allah akan mengganti apa yang kita tinggalkan dengan yang lebih baik dari itu.
Tahun ini, kutemukan dia sebagai penggantinya. Mungkin ini belum pasti, tapi bagaimanapun itu, kita sudah sama-sama tahu. Allah mengganti apa yang kemarin kami tinggalkan dengan menghadirkan orang yang lebih baik, insyaAllah.

Sumber Gambar : niedza.wordpress.com

9 April 2014

Perbandingan Antara Thibbun Nabawi dan Pengobatan Barat

Sifat orang mukmin yang jujur dalam keimanannya disetiap masa, apabila mendengar firman Allah Subhanahu Wata'ala dan sabda Rosulullah Sallallohu Alaihi Wasallam yang mereka tahu pasti kesahihannya, akan segera melaksanakannya tanpa ragu.
Rosulullah Sallallohu Alaihi Wasallam bersabda

Terapi bekam adalah harta karun sekaligus salah satu mukjizat Nabi Muhammad Sallallohu Alaihi Wasallam. Betapa banyak mukjizat yang terjadi melalui terapi ini. Betapa sering terapi ini membantu kesembuhan para penderita penyakit kronis yang sulit disembuhkan(dengan izin Allah Subhanahu Wata'ala), dengan metode pengobatan manapun.